Kategori: Artikel

Pendidikan Jasmani dari Sudut Pandang Islam

Tulisan tentang pendidikan jasmani dari sudut pandang islam ini kebanyakan adalah hasil posting ulang dari beberapa sumber yang saya jadikan atau kumpulkan, terutama dari sebuah skripsi yang saya temukan online yang dibuat oleh mas Ahmad Razali, seorang mahasiswa dari UIN (Universitas Islam Negeri – Malang), sebuah karya ilmiah yang sangat menarik bagi saya, yaitu tentang pentingnya dan betapa islam sangat menyukai orang yang beriman dan kuat secara fisik. Hal ini adalah tidak bisa di artikan dalam satu tema atau sudut pandang, tentu pembahasan fiqih dan penjelasannya akan cukup panjang. Karena kita ketahui bersama bahwa seorang Abu Bakar Ash-shiddiq RA atau nama asli beliau adalah Abdul Ka’bah bin Abi Quhaifah, yaitu seorang yang memiliki tubuh kurus namun islam atau Allah sangat mencintainya, kita tahu hal ini dari lisan Nabi Muhammad SAW.

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan di dalam segala kebaikan. (HR. Muslim)

Allah SWT menciptakan struktur kepribadian manusia  dalam bentuk potensial. Dinamika kepribadian Islam di antaranya adalah dinamika struktur jasmani. Struktur jasmani merupakan aspek biologis dari struktur kepribadian manusia. Aspek ini tercipta bukan dipersiapkan untuk membentuk tingkah laku tersendiri, melainkan sebagai wadah atau tempat singgah strukutur ruh. Kedirian dan kesendirian struktur jasmani tidak akan mampu membentuk suatu tingkah laku lahiriah, begitu pula sebaliknya ruh tidak akan berfungsi apabila tidak ada jasmani sebagai wadah ruh, misalnya berkaitan dengan
tingkah laku batiniah yang diekspresikan dengan perbuatan pada tingkah laku yaitu gerak badan.

Menurut Abdul Mujib, disebutkan bahwa struktur jasmani memiliki daya atau energi yang  mengembangkan proses fisiknya. Energi ini lazimnya disebut dengan daya hidup  (al-Hayah).  Daya hidup kendatipun sifatnya abstrak, tetapi ia belum mampu menggerakkan suatu tingkah laku. Suatu
tingkah laku dapat berujud apabila struktur jasmani telah ditempati struktur ruh.

Manusia dalam konsep kepribadian Islam merupakan makhluk mulia yang memiliki struktur kompleks dan bahkan terindah postur tubuhnya, (Q.S.al-Tîn: 4 dan QS. al-Isra’: 70). Struktur jasmani atau disebut dengan psikomotorik (yang disebut gejala gerak, daya gerak). Kategori kemampuan psikomotor ialah kemampuan yang menyangkut kegiatan otot dan kegiatan fisik. Jadi, tekanan kemampuan yang menyangkut koordinasi syaraf otot; dan juga menyangkut penguasaan tubuh dan gerak. Secara  singkat dapat dikatakan, bahwa kemampuan psikomotorik ini menyangkut kegiatan fisik yang meliputi kegiatan melempar, melekuk, mengangkat, berlari dan sebagainya. Penguasaan kemampuan ini meliputi gerakan anggota tubuh yang memerlukan koordinasi syaraf otot yang sederhana dan bersifat kasar menuju
gerakan yang menuntut koordinasi syaraf otot yang lebih kompleks dan harus secara lancar.

Kenyataanya memang tidak dapat dipungkiri, bahwa segala bentuk aktivitas manusia tidak terlepas dengan jasmaninya. Misalnya dalam pembelaan Islam di masa Rasulullah tidak lepas dengan pengorbanan jasmaninya, bahkan sebelum terjun kemedan perang Rasulullah selalu mengkalasifikasi kemampuan dan kekuatan jasmaninya.

Bagi seorang muslim bahwa Jasmani sebagai sarana dalam beribadah kepada Sang Khaliq (Allah SWT), baik ibadah yang bersifat hablu minan-nas dan  hablu mina-Allah. al-Ghazali memandang aspek jasmani sebagai sarana untuk mencapai maksud manusia, dan sarana untuk melaksanakan kewajiban-
kewajiban agama. Misalnya menolong seseorang yang lagi keberatan membawa sesuatu, maka bagi orang meilihat harusnya membantunya untuk meringankan bebannya sedangkan keterkaitan dengan aktivitas jasmani dengan Sang Khaliq ialah dengan melakukan ibadah shalat sehari semalam lima kali. Dalam pendapat yang lain al-Ghazali menyebutkan bahwa aspek jasmani merupakan salah satu dasar pokok untuk mendapatkan kemajuan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia.

Menurut Baharuddin Salam disebutkan bahwa di dalam perkembangan manusia adalah merupakan kesatuan dalam kebinnekaan. Karena itu kesempurnaan manusia tidak dapat dipisahkan dengan penyempurnaan badan, manusia berkembang hanya sebagai manusia jika badannya memungkinkan.
Oleh karena itu harus selalu dianggap dan diperlukan sehingga lebih memungkinkan perkembangan yang menyeluruh sebesar-besarnya.

Indentitas jasmani manusia sebagai suatu perantara  untuk melakukan segala macam aktivitasnya. Sebagai salah satu bukti dengan realitas yang ada, bahwa badan menjadi tolak ukur dalam menentukan segala pekerjaan seseorang. Misalnya dalam masalah jabatan atau pekerjaan bahwa badan menjadi suatu persyaratan untuk diterima atau tidaknya orang tersebut, badan akan menjadi suatu pertimbangan baginya. Begitu pula dalam melakukan ibadah kepada Tuhan tidak lepas dengan anggota badan yang bersih, sehat dan mampu melaksanakan segala perintahnya. Jasmani merupakan suatu sistem yang memiliki pola hubungan komponen yang saling bekerja sama, saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya jasmani terdiri dari mata, kepala yang berisi otak, tangan, kaki, hati dan lain sebagainya. Jika dari salah satu dari komponen tersebut cacat atau tidak berfungsi, maka sistem akan terjadi ketidak stabilan dan menjadi penghambat dalam aktivitas manusia. Sebagai contoh, bahwa kita ingin mendaki gunung, tetapi tenaga-tenaga badan tak sampai, jasmani tidak memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan melewati perjalanan yang sangat jauh dan banyak rintangan yang akan dihadapinya, atau kakinya sakit. Sebagaimana Slameto mengatakan bila tubuh cacat akan menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna, di antaranya berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan patah tangan, lumpuh dan lain-lain. Jadi, kekurang tersebut akan berakibat pada aktivitasnya. Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan sehari-hari: “Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan
tak sampai”.

Dalam Islam, pendidikan jasmani merupakan upayah untuk menjadikan tubuh yang sehat dan kuat, dengan tujuan pendidikan adalah membimbing terhadap perkembangan jasmani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Seperti memberi makan dan minum (Q.S. al-Baqarah:  57), menjaga kebersihan (Q.S. al-Baqarah: 222), dan menciptakan sesuatu yang menjadikan badan sehat dan kuat (Q.S. al-Qashash: 26). Pada masa Rasulullah pendidikan jasmani dilakukan selain untuk kesehatan dan kekuatan dirinya dan juga bertujuan untuk membela agama Allah yaitu Islam. Sebagaimana Rasulullah Saw. pernah memerintahkan antar anak pemuda yang menang akhirnya diikutkan dalam peperang dalam
membela Islam.

Selain itu, di antara pendidikan yang dilakukan Nabi Saw seperti berenang, memanah (panahan), dan berkuda untuk persiapan pembelaan Islam. Sejarah menyebutkan bahwa tersebarnya Islam banyak melakukan
pembelaan dengan melakukan perlawanan terhadap musuh, sehingga dengan semangat yang gigih dan kekuatan yang sudah dipersiapkan akhirnya dapat mematahkan kekuatan musuh yang begitu banyak. Dan ini tidak lepas dengan keberadaan jasmani yang kuat dan perkasa.

Dari uraian di atas, disebutkan bahwa pendidikan jasmani pada masa dahulu banyak dilakukan dengan bertujuan untuk perjuangan dan pembelaan termasuk membelaan agama Islam.

 

Cuplikan dari sumber :

Abdul Mujib,  Kepribadian Dalam Psikologi Islam,  (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 113-114.
Ahmad Syauqi Al-Fanjari, Nilai Kesehatan Dalam Syari’at Islam,  (Jakarta: Bumi Aksara, 2005). hlm. 84.
Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 2001), hlm. 259.
Burhanuddin Salam,  Filsafat Manusia (Antropologi Metafisika),  (Jakarta: Binika Aksara, 1988), hlm. 41-42.
Zuhairini dan Abdul Ghafir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: Universitas Negri Malang (UM Pres) d/h IKIP Malang, 2004), hlm. 1.
Ahmad Syauqi Al-Fanjari, op. Cit., hlm. 84.
Tim Dosen Fip-Ikip Malang,  Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), hlm. 23.